|
HARGA: RP 25.000,- Isi: 80 kapsul No. Sertifikat Halal MUI: 1636072001 (kapsul) Izin Depkes RI: P.IRT No. 313331105058
KHASIAT: Mengendalikan
pertumbuhan sel kanker, nyeri sewaktu haid (dismenore), tidak datang
haid (anemore) karena tersumbatnya aliran darah, pembersihan darah
setelah melahirkan, Memulihkan gangguan pencernaan makanan (dispepsi),
seperti rasa mual dan kembung karena banyak gas, sakit perut, rasapenuh
dan sakit di dada akibat tersumbatnya energi vital, pembesaran: hati
(hepatomegali), limpa (splenomegali), luka memar, sakit gigi, radang
tenggorok, batuk, kanker : serviks, vulva,dan
kulit, meningkatkan efektivitas pengobatan radiasi dan kemoterapi pada
penderita kankermeningkatkan antibodi spesifik, anti oksidan yang dapat
melindungi tubuh dari kerusakan sel, mengobati radang kulit, pencuci
darah, serta sebagai obat pembersih dan penguat (tonik) sesudah nifas.
DESKRIPSI Curcuma
zedoaria (Christm.) Roscoe) adalah sejenis empon-empon yang berkhasiat
obat. Rimpangnya dimanfaatkan sebagai campuran obat. Khasiatnya
bermacam-macam, namun biasanya terkait dengan pencernaan. Lebih
lengkap, rimpangnya dipakai sebagai obat kudis, radang kulit, pencuci
darah, perut kembung, dan gangguan lain pada saluran pencernaan serta
sebagai obat pembersih dan penguat (tonik) sesudah nifas. Rimpang
mengandung zat warna kuning kurkumin (diarilheptanoid). Komponen minyak
atsiri dari rimpangnya terdiri dari turunan Guaian (kurkumol,
kurkumenol, Isokurkumenol, Prokurkumenol, Kurkurnadiol), turunan
Germakran (Kurdion, Dehidrokurdion); seskuiterpena furanoid dengan
kerangka eudesman (Kurkolon). Kerangka Germakran (Furanodienon,
Isofuranodienon, Zederon, Furanodien, Furanogermenon); kerangka Eleman
(Kurserenon identik dengan edoaron, Epikurserenon, Isofurano
germakren); Asam-4-metoksi sinamat (bersifat fungistatik). Dari hasil
penelitian lain ditemukan kurkumanolid A, kurleumanolid B, dan
kurkumenon. Herba setahun, dapat lebih dari 2 m. Batang sesungguhnya
berupa rimpang yang bercabang di bawah tanah, berwama coklat muda
coklat tua, di dalamnya putih atau putih kebiruan, memiliki umbi bulat
dan aromatilc. Daun tunggal, pelepah daun membentuk batang semu,
berwarna hijau coklat tua, helaian 2-9 buah, bentuk memanjang lanset
2,5 kali lebar yang terlebar, ujung runcing-meruncing, berambut tidak
nyata, hijau atau hijau dengan bercak coklat ungu di tulang daun
pangkal, 43-80 cm atau lebih. Bunga majemuk susunan bulir,diketiak
rimpang primer, tangkai berambut. Daun pelindung berjumlah banyak,
spatha dan brachtea; rata-rata 3-8 x l,5-3,5cm. Kelopak 3 daun, putih
atau kekuningan, bagian tengah merah atau coklat kemerahan, 3 -4 cm.
Mahkota: 3 daun, putih kemerahan, tinggi rata-rata 4,5 cm. Bibir
bibiran membulat atau bulat telur terbalik, ujung 2 lobe, kuning atau
putih, tengah kuning atau kuning jeruk, 14-18 x 14-20 mm. Benang sari 1
buah, tidak sempuma, bulat telur terbalik, kuning terang, 12-16 x
10-115 mm, tangkai 3 5 x 2-4 mm, kepala sari putih, 6 mm. Buah:
berambut, rata-rata 2 cm. Waktu berbunga Agustus - Mei. Tumbuh di
daerah tropis, 750 m dpI di Jawa dibudidayakan sebagai tanaman obat, di
bawah naungan. Produksi terpenoid pada kultur organ Curcuma zeodaria
relatif lebih banyak bila dibandingkan kultur kalus. Diferensiasi sel
dapat menginduksi biosintesis terpenoid. Penelitian juga dilakukan
pada berbagai tanaman yang diduga memiliki khasiat obat. Di beberapa
negara dan daerah, ada beberapa jenis tanaman yang mampu mengatasi
tumor dan kanker. Contohnya temu putih dan keladi tikus yang banyak
digunakan dalam ramuan antikanker oleh para terapis tradisional dan
terapis herbal. Beberapa waktu lalu di Jakarta, Kepala Badan Pengawasan
Obat dan Makanan, Sampurno mengemukakan, tanaman berkhasiat obat itu
perlu dikembangkan. "Tanaman obat ini tak mengandung efek samping yang
berarti bagi tubuh. Di samping itu, kita memiliki banyak pengalaman
dalam menggunakannya secara turun-temurun. Karena itu, perlu
peningkatan penelitian terhadap tanaman obat ini," katanya.
Antitumor Promoter Banyak
penelitian banyak melaporkan, pemicu tumor dan kanker berasal dari
pengaruh dalam maupun luar tubuh. Pengaruh dari dalam tubuh berupa
unsur genetika. Sedangkan pengaruh dari luar tubuh adalah lingkungan,
seperti makanan, udara, dan faktor tekanan lingkungan. Karsinogenik
atau zat karsinogen merupakan unsur yang dinilai banyak pengaruhnya
dalam menciptakan ketidaknormalan pertumbuhan sel dalam tubuh. Unsur
yang bersifat racun bagi tubuh ini terdapat pada makanan dan lingkungan
(seperti polusi udara). Untuk pencegahan tumor dan kanker, cara yang
paling penting adalah menghindari unsur karsinogen ini. Cara lainnya
adalah mengonsumsi bahan-bahan yang terbukti menghambat atau mencegah
pertumbuhan tumor atau kanker. Bahan-bahan inilah yang disebut
antitumor promoter. Salah satu antitumor promoter adalah curcumin
(rimpang kunyit dan temu-temuan seperti temu putih). Menurut penelitian
Kuo ML, Huang TS, dan Lin JK dari Toxicology College of Medicine,
Universitas Nasional Taiwan, curcumin mengandung antioksidan dan juga
antitumor promoter. Dalam laporannya yang dipublikasikan di Taipeh,
Taiwan disebutkan, curcumin yang digunakan sebagai bumbu dan pewarna
makanan itu memiliki zat aktif antioksidan, antiradang, dan antitumor. Menurut
hasil penelitian mereka, curcumin menghambat sel promyelocitik leukemia
HL-60 (dalam kanker darah) dengan konsentrasi rendah sekitar 3,5
mikrogram/ml. Bahkan, daya hambat curcumin itu semakin tinggi bila
dosisnya ditingkatkan. Sementara itu, sejumlah peneliti dari Jepang
mengungkapkan kemampuan ginseng Vietnam. Laporan yang dipublikasikan di
Medline itu menyebutkan, ginseng Vietnam dikenal memiliki khasiat untuk
banyak penyakit serius dan meningkatkan kekuatan tubuh. Para
peneliti itu mengisolasi zat aktif dari ginseng, seperti
protopanaxadiol-type saponin (ginsenosides-Rb1, -Rd2, -Re3,
ginsenoside-Rg1, dan notoginsenoside R1. Unsur lainnya adalah
ocotillol-type saponins seperti majonoside R1 dan majonoside R2. "Untuk
mendapatkan agen kemopreventif kanker (antitumor promoter), kami
menapis beberapa ekstrak tanaman dengan menggunakan efek inhibitori
dari metode antigen virus Epstein-Barr (EBV-EA). Kandungan terbanyak
adalah majonoside R2 yang ternyata paling kuat efeknya," begitu laporan
tersebut. Kemampuan unsur ini ternyata lebih tinggi dibanding asam
glisiretik yang dikenal selama ini sebagai antitumor promoter.
Arsenik Sementara
itu, zat arsenik (As) yang beracun ternyata bisa digunakan untuk
pengobatan kanker darah atau leukemia. Arsenik yang digunakan sebagai
pembunuh hama dan sangat mematikan bagi makhluk hidup ini mampu
membantu sebanyak 90 persen dari 63 pasien leukemia. Penelitian
tersebut dilakukan oleh tim ahli dari Universitas Kedokteran di
Teheran, Iran. Mereka menggunakan arsenik trioksida untuk mengobati
acute promyeloctytic leukaemia. Namun, menurut Dr David Grimwade dari
Guy's, dari King's & St Thomas's School of Medicine, Inggris,
terapi ini merupakan kemoterapi tradisional yang sudah lama digunakan
sebagai terapi kanker. Yang menarik, Ken Campbell dari Leukaemia
Research Fund malah heran karena baru kali ini dia mendapati bahwa
arsenik trioksida digunakan untuk terapi leukemia.
Antitumor Promoter di Indonesia Prof
Dr dr Sjamsuridjal Djauzi, direktur utama RS Kanker Dharmais (RSKD)
mengatakan, penelitian berbagai terapi untuk kanker terus dilakukan.
"Kami terus mencoba melakukan penelitian terhadap berbagai bahan dan
metode untuk terapi kanker. Salah satunya seperti yang dilakukan di
Kuba yang kami berminat untuk menerapkannya di sini, seperti lewat
vaksin." Langkah penelitian lainnya, lanjut Sjamsuridjal, adalah
yang dilakukan oleh RSKD bekerja sama dengan Jurusan Farmasi FMIPA UI
dan Jurusan Farmasi Universitas Tujuh Belas Agustus. Penelitian itu
melibatkan tim yang terdiri atas Wan Lelly Heffen, Dewi Kristanti,
Nurhuda, Erilia, Deby, Mirna, dan Ade Novi. Penelitian mereka
berupaya menekan tumor promoter dengan beberapa komponen dari obat
hasil alam. Studi fitokimia ini mempunyai keuntungan besar pada
aplikasi klinis. Soalnya, daya toksositasnya rendah sehingga dapat
digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Pengujian potensi
sitotoksik beberapa jenis tumbuhan telah dilakukan di RSKD terhadap
kanker serviks sel line. Tumbuhan itu antara lain Curcuma zeodoaria
(temu putih), Curcuma domestica (kunyit), dan Curcuma mangga (temu
mangga), serta Phaleria macrocarpa Boerl. (mahkota dewa). Dari
penelitian tersebut, ternyata rimpang segar temu putih mempunyai
potensi kematian sel kanker di atas 50 persen. Kemampuan ini pada
konsentrasi 50, 100, 150, dan 200 mikrogram/ml. Sedangkan untuk sediaan
jadi temu putih (ZF kapsul) mempunyai potensi kematian sel kanker di
bawah 50 persen pada dosis yang sama. Sementara itu, daging buah segar
mahkota dewa memiliki potensi kematian sel kanker di atas 50 persen
pada konsentrasi 100, 150, dan 200 mikrogram/ml. Kesimpulan dari
penelitian tersebut, jenis-jenis tumbuhan alam ini sangat potensial
untuk dikembangkan menjadi antitumor promoter. Ini dilakukan sebagai
pengobatan suportif pada kanker.
|