|
HARGA: RP 25.000,- Isi: 80 Kapsul No. Sertifikat Halal MUI: 1636072001 (kapsul) Izin Depkes RI: P.IRT No. 313331105058
Khasiat: Meningkatkan
kemampuan seksual dan mengatasi impotensi, tonikum bagi ibu-ibu yang
baru melahirkan, pengobatan pembekakan kelenjar, demam, disentri,
penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah, pengelupasan hati dan
virus hepatitis
Deskripsi: Penamaan
pasak bumi (Eurycoma longifolia) memang cocok dengan bentuk dari akar
tanaman ini yang mirip seperti kayu atau paku dari kayu yang menancap
lurus ke bumi. Tanaman ini banyak ditemukan tumbuh di Kalimantan,
Sumatra, dan Irian. Di Malaysia yang berbatasan dengan Kalimantan
Utara, tanaman ini juga ditemukan dan lebih dikenal dengan nama tongkat
Ali. Tanaman ini dikenal sejak lama sebagai obat kuat laki-laki. Ini
sebenarnya terkait dengan efek androgenik batang pasak bumi. Efek
androgenik berarti efek dari peningkatan hormon androgen yaitu hormon
yang berfungsi faal untuk pananda dan pengatur pada susunan syaraf
pusat sehingga tercipta tingkah laku, sifat pubertas dan karakter seks.
Masyarakat
secara turun- temurun mempercayai pasak bumi (Eurycoma longifolia)
memiliki khasiat meningkatkan gairah seksual kaum pria. Masyarakat juga
memanfaatkan pasak bumi sebagai tonikum bagi ibu-ibu yang baru
melahirkan, pengobatan pembekakan kelenjar, demam, disentri. "Hasil
penelitian ilmiah menunjukkan pasak bumi berkhasiat dalam disfungsi
seks, antimalaria, dan sitotoksik (peracunan sel). Sedangkan penelitian
pengaruh pasak bumi melindungi hati dari kerusakan belum banyak
dilakukan," kata Mahasiswa S3 Program Studi Biologi Institut Pertanian
Bogor (IPB, Ruqiah Ganda Putri Panjaitan saat menyampaikan tujuan
penelitian disertasinya yang bertajuk ‘Pengujian Aktivitas
Hepatoprotektor Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack), Kamis (9/1)
di Kampus IPB Darmaga.
Sebanyak 12,5 kilogram akar pasak bumi
kering dihabiskan Ruqiah dalam penelitiannya. Akar pasak bumi kering
ini, selanjutnya dihaluskan menjadi bubuk dan diekstraksi dengan
larutan metanol 50 persen. Dipartisi berulang-ulang dengan n-heksan,
dipekatkan dengan vacuum rotavapor. Hasil partisi ini masih melalui
proses beberapa tahapan lagi, hingga diperoleh ekstrak yang diharapkan.
Ekstrak
tumbuhan asli Indonesia ini lalu diujicobakan pada tikus jantan Sprague
Dawley umur 2-3 bulan. Sebelumya semua tikus percobaan diberi carbon
tetraklorida dengan dosis 0,1; 1,0 dan 10,0 mililiter per kilogram.
Carbon tetraklorida ini bersifat meracuni hati. Karbon tetraklorida ini
mengakibatkan nekrosis (kerusakan sel) tikus.. Hewan percobaan dibagi
tiga kelompok, tiap kelompok terdiri dari tiga ekor. Kelompok pertama,
tikus yang diberi air suling. Kelompok kedua, tikus yang diberi Silybum
marianum. Kelompok ketiga, tikus yang diberi ekstrak akar pasak bumi.
Perlakuan tikus ini berlangsung selama 3 bulan.
Pemberian
ekstrak akar pasak bumi dosis 500 miligram per kilogram berat badan
tidak mengakibatkan perubahan kadar enzim hati - yakni enzim Aspartate
Transaminase, enzim Alanin Aminotransferaz, dan Alkalenfosfataz -,
protein total, bilirubin total, direk dan indurek. Gambaran ini
menunjukkan secara kelseluruahn sel-sel hati tidak mengalami perubahan. Dosis
fraksi metanol air akar pasak bumi kemudian dinaikkan menjadi 1000
mililiter per kilogram berat badan. Pada dosis ini ekstrak akar pasak
bumi menunjukkan aktivitas hepatoprotektor. Hal ini ditandai kadar
enzim Aspartate Transaminase dan Alanin Aminotransferaz masih dalam
kisaran normal. Selain itu, gambaran histopatologi (jaringan yang
terpapar penyakit)-nya sebanding dengan pemberian silymarin.
Tumbuhan
sudah diketahui benar berperan sebagai hepatoprotektor adalah Silybum
marianum (Milk Thistle). Oleh karenanya, dalam penelitian Ruqiah,
sebagai pembanding dipakai Silybum marianum. Tumbuhan ini dilaporkan
mampu melindungi hati dari berbagai jenis racun, parasetamol, alkohol,
carbon tetraklorida, D-galaktosamin, radiasi, penyempitan atau
penyumbatan pembuluh darah, pengelupasan hati dan virus hepatitis.
Penelitian
Perempuan kelahiran tahun 1974 ini dibawah komisi pembimbing Prof.
Wasmen Manalu, dan Dr.Ekowati Handharyani, Dr. Chairul. (ris)
|