|
TAZAKKA KAPSUL HERBAL: PURWOCENG
HARGA: RP 25.000,-
Isi: 80 kapsul No. Sertifikat Halal MUI: 1636072001 (kapsul) Izin Depkes RI: P.IRT No. 313331105058
KHASIAT: Antara
lain untuk pemulih stamina, penambah gairah seksual serta penambah
jumlah hormon testosteron dan spermatozoid, penghilang sakit, penurun
panas, antifungi dan antibakteri.
KANDUNGAN PURWOCENG Merupakan
ramuan tiga herba yaitu purwoceng, biji pronojiwo dan pasak bumi.
urwoceng merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang dikenal
berkhasiat sebagai obat perkasa kaum lelaki. Karena itu, Purwoceng juga
mendapat sebutan ‘Viagra Jawa’. Kenapa bisa demikian? Purwoceng
sebenarnya tergolong tanaman langka, namun kini dapat diselamatkan
dengan budi daya menggunakan metode kultur in vitro. Masalah budi daya
Purwoceng ini pernah dipaparkan Ireng Darwati, mahasiswa S3 program
studi Agronomi Institut Pertanian Bogor (IPB) saat mempertahankan
disertasinya berjudul “Kultur Kalus dan Kultur Akar Rambut Purwoceng
untuk Menghasilkan Metabolit Sekunder dan Harapan untuk Pengembangan
Tanaman Purwoceng di Masa Mendatang,” di Kampus IPB Darmaga, Bogor
(Suara Pembaharuan, 23/02/2007). Nama Latin purwoceng semula adalah
Pimpinella pruacan, tapi kemudian direvisi menjadi Pimpinella alpina.
Tumbuhan ini ditemukan di Pegunungan Alpen di Swiss, pada ketinggian
2.000-3.000 meter di atas permukaan laut. Mengenai tempat tumbuh
Purwoceng di Indonesia semula dikenal tumbuh liar di kawasan Dieng pada
ketinggian 2.000-3.000 m dpl. Namun menurut Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan (1987), sebaran tanaman purwoceng di Indonesia
kini meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Wahyuni et
al. (1997) menyatakan bahwa purwoceng dapat tumbuh di luar habitatnya
seperti di Gunung Putri Jawa Barat dan mampu menghasilkan benih untuk
bahan konservasi. Potensi tanaman purwoceng cukup besar, tetapi masih
terkendala oleh langkanya penyediaan benih dan keterbatasan lahan yang
sesuai untuk tanaman tersebut (Yuhono 2004). Selain di Dieng, Purwoceng
juga tumbuh di pegunungan Iyang, Jawa Timur (dikenal sebagai suripandak
abang). Di Gunung Tengger dinamai gebangan depok. Kendati sebutan nama
latinnya berubah-ubah, para peneliti memiliki satu kesimpulan yang sama
bahwa Purwoceng termasuk tanaman obat. Apa Saja Manfaat Purwoceng? Eni
Hayani dan May Sukmasari pernah memaparkan, seluruh bagian tanaman
purwoceng dapat digunakan sebagai obat tradisional, terutama akar.
Akarnya mempunyai sifat diuretika dan digunakan sebagai aprosidiak
(Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 1987), yaitu khasiat suatu
obat yang dapat meningkatkan atau menambah stamina. Pada umumnya
tumbuhan atau tanaman yang berkhasiat sebagai aprosidiak mengandung
senyawa-senyawa turunan saponin, alkaloid, tanin, dan senyawa-senyawa
lain yang berkhasiat sebagai penguat tubuh serta memperlancar peredaran
darah. Di Indonesia tumbuhan atau tanaman obat yang digunakan sebagai
aprosidiak lebih banyak hanya berdasarkan kepercayaan dan pengalaman
(Hernani dan Yuliani 1991). Penggunaan tanaman obat dibidang
pengobatan pada prinsipnya tetap didasarkan pada prinsip-prinsip terapi
seperti pada penggunaan obat moderen. Oleh karenanya informasi
kandungan senyawa aktif tanaman obat mutlak diperlukan. Umumnya tanaman
obat jarang memiliki bahan senyawa tunggal, sehingga sulit untuk
memastikan kandungan aktif mana yang berkasiat untuk pengobatan
penyakit tertentu. Misalnya khasiat akar tanaman purwoceng (Pimpinella
alpina) yang diketahui dari pengalaman-pengalaman orang kemudian
berkembang menjadi image berkasiat sebagai aprodisiak, ternyata
mengandung turunan dari senyawa sterol, saponin dan alkaloida
(Caropeboka dan Lubis, 1985). Sidik, et al. (1985) mengatakan bahwa
akar purwoceng mengandung turunan senyawa kumarin yang digunakan dalam
industri obat modern, tetapi bukan untuk aprodisiak melainkan untuk
anti bakteri, anti fungi dan anti kanker. Hernani dan Yuliani (1990)
mengatakan bahwa bahan aktif purwoceng terbanyak terletak pada bagian
akarnya. Tanaman purwoceng mempunyai kandungan bahan yang bersifat
aprodisiak menyebabkan keberadaannya semakin dicari orang. Pada
mulanya, tanaman purwoceng digunakan oleh penduduk disekitar pegunungan
Dieng (daerah asalnya) hanya untuk pemeliharaan kesehatan atau
peningkatan derajat kesehatan. Namun sejalan dengan perkembangan
penelitian dan isu yang dihembuskan, tanaman ini berkembang menjadi
komoditas yang sangat ”laku jual” sebagai bahan aprodisiak, bahkan kini
telah dipopulerkan oleh masyarakat dan Kelompok Tani setempat dengan
sebutan ”Viagra Jawa”. Keberadaan tanaman yang semakin langka
disebabkan selain karena terdesak oleh pesatnya permintaan, juga karena
pengadaannya memerlukan waktu. Atas dasar kelangkaan dan isu aprodisiak
tersebut harga yang terjadi sekarang sangat tinggi.
BANYAK orang
sudah membuktikan khasiat purwoceng. Antara lain penghilang sakit,
penurun panas, antifungsi dan antibakteri. Namun, masyarakat umum
mengenal purwoceng sebagai pemulih stamina, penambah gairah seksual
serta penambah jumlah hormon testosteron dan spermatozoid. Karena
itu, banyak orang yang berkeinginan memelihara purwoceng, kemudian
membudidayakan di lahan kering dataran tinggi pada ketinggian 1.500
sampai 2.000 meter di bawah permukaan laut. Ada yang menyewa lahan.
Membeli bibit. Secara pengamatan kasar, lahan yang terus-menerus
ditanami purwoceng tidak menimbulkan kendala penurunan herba, asal
selalu diberi pupuk dengan pupuk organik. Mereka yang sudah
memanfaatkan purwoceng, dalam perhitungan kasar pada tahun kedua bisa
memperoleh penghasilan lebih tinggi dibanding tahun pertama. "Ini
sebabnya, pada tahun pertama pengeluarannya tinggi, untuk bibit dan
paranet. Pada tahun kedua, bibit bisa dibuat sendiri sehingga
pengeluarannya lebih sedikit," kata Moko Rahardjo. Selain itu,
banyak pula orang yang memberikan kesaksian atas pemanfaatan purwoceng
yang sudah dikemas menjadi jamu. Misalnya yang dikemas menjadi teh,
dengan meminum teh purwoceng secara rutin, seorang pria 45 tahun merasa
badannya lebih hangat, segar, staminanya tetap prima dan semangat
bekerjanya meningkat. MANFAAT purwoceng dapat meningkatkan stamina
memang tidak aneh, sebab purwoceng sudah dimanfaatkan masyarakat banyak
sebagai obat dalam bentuk ramuan dan tidak berbahaya. Satu di antaranya
dalam kemasan teh. Bagi pria berusia 50 tahun, setelah mengonsumsi
ramuan purwoceng badannya menjadi lebih segar, staminanya meningkat.
Tetapi, gairah seksualnya juga meningkat meski usianya setengah abad. Ini
mengherankan bagi para adiyuswa, ternyata purwoceng mempunyai khasiat.
Tak beda dengan pria berusia 48 tahun, selama satu minggu ia
mengonsumsi ramuan purwoceng, gairah seksualnya juga terasa meningkat. Banyak
purwoceng bisa tumbuh di Dieng Plateau. "Dieng merupakan daerah dataran
tinggi yang suhu udaranya rendah, sehingga sangat dingin," komentar
Haryanto, warga Dieng itu dalam buku Moko Rahardjo, Purwoceng (Penebar
Swadaya, 2005). Karena memiliki tanaman obat purwoceng di halaman
rumahnya, secara rutin ia bisa minum teh purwoceng. Ternyata ada
khasiatnya. Dulu badannya loyo dan gampang letih. Setelah badan merasa
segar, apa yang akan dikerjakan bisa berhasil. Termasuk, katanya,
hubungan suami dan isteri. Pak Andul Hamid tinggal di Bogor.
Mempunyai teman yang sering pergi ke Dieng. Suatu hari ia diberi
oleh-oleh ramuan purwoceng. Setelah dikonsumsi dan merasakan
khasiatnya, ia seperti ketagihan. Semula ia hanya mencoba-coba
mengonsumsi, tetapi ternyata efeknya bagus sekali. Komentar Andul Hamid
sama seperti adiyuswa lainnya. "Badan yang sering terasa lesu dan
kurang bergairah, menjadi normal dan segar," katanya bergairah
sebagaimana pengakuannya dalam buku itu.
Pengalaman tentang
gairah seksual, juga dialami banyak orang. Penduduk Wonosobo banyak
yang berdagang jamu, suatu saat ia melayani permintaan ramuan jamu yang
terbuat dari purwoceng. Ternyata khasiatnya sangat luar biasa. Ini
dirasakan Syamsuddin. Padahal sebelumnya ia sudah mencoba menggunakan
jamu yang terbuat dari ginseng impor. Tetapi, lebih manjur ketika
menggunakan ramuan jamu purwoceng ini. Pengalaman ini membuktikan
betapa purwoceng bisa dijadikan klinik alternatif bagi mereka yang
memiliki problem serupa itu. Tetapi jamu tradisional ini juga tak
memberi efek samping.
|